Monday, November 12, 2012

ARTI SEBUAH PERLAWANAN

Posted By: Bagus Supriadi - November 12, 2012

Share

& Comment


Radar Bromo, Minggu 11 November 2012
Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. (Bung Karno)
            Peristiwa sepuluh  November merupakan saksi sejarah dari semangat nasionalisme, mempersatukan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) saat kota Surabaya dijajah oleh Belanda. Tidak hanya warga Surabaya yang melakukan perlawanan terhadap belanda, organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama’ (NU) dibawah pimpinan Hadratus Syeikh KH. Hasyim asy’ari mendeklarasikan resolusi jihad, yakni kewajiban melawan penjajah.
            Perlawanan semakin memuncak ketika terbunuhnya Jendral Mallaby, pimpinan dari Inggris untuk daerah Jawa Timur  pada 30 Oktober 1945. kematian Mallaby menyebabkan Inggris marah kepada Indonesia dan mengeluarkan ultimatum 10 november 1945 dengan pimpinannya yang baru untuk meminta Indonesia menghentikan menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan.
            Bung Tomo, pemimpin revolusioner Indonesia dan para kyai di Jawa Timur seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah mengerahkan santri dan masyarakat sipil untuk melawan penjajah.  Bung Tomo dengan suaranya yang lantang berkata;
saoedara-saoedara lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka. Sembojan kita tetap: Merdeka atau Mati. Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita, sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar, pertjajalah saoedara-saoedara, Toehan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!.
           
Memaknai perlawanan
            Perlawanan Bung Tomo beserta pra kiai tersebut terjadi 66 tahun yang lalu. Umur yang sudah bisa dibilang dewasa bagi negara kita untuk memetik hikmah dari setiap kejadian. Sepuluh November, hari yang dikenang sebagai hari pahlawan oleh republik Indonesia merupakan cerminan sejarah agar kita sejenak kembali ke masa lalu, merenungi sejarah tentang arti sebuah perlawanan, nasionalisme, patriotisme dan  semangat mempertahankan NKRI.
Di saat negara ini sedang diuji dengan beberapa tindakan radikalisme, praktek korupsi oleh elit politik, kita semakin menjauh dari kemerdekaan yang bersifat pemberdayaan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Semboyan Bung Tomo merdeka atau mati harus tetap menjadi landasan berpikir kita, merdeka dari korupsi, separatisme, kemiskinan dan melek huruf.
Indonesia perlu belajar dari sejarah, terlebih pada para birokrat yang mengaku memperjuangkan kemerdekaan rakyat dari kemiskinan, kebodohan, mengingat penilaian masyarakat, 75,7 persen pemimpin, elit politik lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya dari kepentingan masyarakat yang lebih membutuhkan (jajak pendapat kompas, 7 november 2011).
Membaca kembali makna perlawanan tidak sesempit yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, yakni harus dengan perang mengangkat senjata, namun yang perlu kita lawan adalah ketidakadilan dan korupsi.  Ketimpangan sosial yang terjadi membuahkan sesuatu yang tidak kita inginkan, radikalisme, separatisme, dan tidak menutup kemungkinan Indonesia kembali pada sejarah yang telah terjadi, terpecah-belah oleh beberapa kelompok, misal Aceh dan Jawa Barat.
Bung karno pernah berkata “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Belanda, Jepang atau Inggris 67 tahun yang lalu telah meninggalkan Indonesia. Namun bukan berarti negara ini telah terlepas oleh penjajah. Negara ini masih dijajah oleh para koruptor yang merampok  uang rakyat, para penegak hukum yang bengkok, para birokrat yang sangat peduli dengan kepentigan pribadi. Memang lebih sulit mengusir penjajah yang lahir di negeri sendiri dan  menciptakan kekuasaan sendiri.
Siapa yang bisa melawan para penjajah setelah Indonesia merdeka? Jika bung karno pernah berkata; “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” para pemuda, terlebih yang berstatus sebagai agent of change mempunyai peran besar untuk melanjutkan  kemerdekaan Indonesia dan meneruskan cita-cita para pendiri bangsa (founding fathers) melalui beberapa organisasi yang mengatasnamakan pergerakan, bergerak menciptakan perubahan dengan semangat nasionalisme.
Melawan tidak berupa dengan tindakan anarkisme yang meresahkan warga, melawan tidak pula dengan sembunyi sambil membawa rakitan bom. Namun, yang perlu kita lawan terlebih dahulu adalah keberanian untuk terus menghilangkan penindasan. Sebab keberaniah hilang melihat suap yang merajalela, keberanian lenyap karena tidak memiliki karakter yang kuat. Dapat dihitung dengan jari orang yang bisa dikatakan pemberani.
Bukankah para pendiri negara ini berbekal keberanian, dengan menggunakan senjata bambu runcing, tidak cukup masuk akal melawan senapan para penjajah. Karena keberanian telah menjadi pondasi awal dalam melawan ketidakadilan, mundur satu langkah adalah sebuah pengkhianatan.

Mempertanyakan Pemuda
                     Perkumpulan Budi Utomo yang diakui sebagai permulaan kebangkitan nasional, didirikan oleh para mahasiswa STOVIA tanggal 20 mei 1908. Budi Utomo adalah perkumpulan bumi putra dengan tokoh pendiri Sutomo pada usia 19 tahun, dan  memenuhi syarat organisasi menurut pengertian barat. Selanjutnya didirikan perkumpulan Tri Koro Dharmo, selang beberapa kemudian menjelma menjadi Jong Java (perkumpulan pemuda Jawa). Kebangkitan Jong Java membangkitkan semangat pemuda daerah lain sehingga muncul Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Ambon. Kemudian bersatu menjadi perkumpulan pemuda Indonesia tanggal 7 Februari di Bandung. Tidak puas dengan semangat patriotisme kedaerahan, berubah lagi menjadi perkumpulan Indonesia Muda (IM) pada bulan Desember 1930 di Surakarta.
Tak Perlu membanding-bandingkan pemuda sekarang dengan masa lalu, sebagai renungan bagi para pemuda, sejarah telah mengajarkan peran pemuda dalam membentuk negara indonesia.
Pemuda Indonesia belum siap menerima perkembangan masuknya budaya barat, hidup di tengah kebebasan semakin menjadikan perilaku pemuda yang menggantungkan diri pada orang lain. Semakin maraknya pergaulan bebas, semakin memberi peluang bagi para pemuda untuk menikmati kehidupan yang hedonis. Tanpa berfikir panjang demi kepentingan yang lebih besar.  
Pemuda masa lalu ditengah keterbatasan, baik pada masa penjajahan, pra kemerdekaan, paska kemerdekaan, orde lama dan orde baru menjadi tantangan tersendiri untuk mempertahankan eksistensi mereka sebagai pemuda, yakni menciptakan pembaharuan yang bertujuan menjadikan negeri ini makmur dan sentosa.
Tragedi Trisakti, Malari, serta tumbangnya rezim Soeharto merupakan eksistensi peran pemuda. Era reformasi yang memberikan kebebasan informasi telah menjadikan pemuda tidak perlu melakukan aksi yang serupa dengan beberapa tragedi yang pernah terjadi. Dengan apakah perlawanan pemuda saat ini?
 Pemuda tetap memaksimalkan perannya sebagai  agent of control pada setiap kebijakan yang bersinggungan dengan masyarakat, melakukan perannya untuk melawan korupsi, menjaga persatuan NKRI, meneruskan perjuangan para founding father bangsa.
Setelah 66 tahun lamanya, negara ini sangat memungkinkan menjadi negara yang makmur, masyarakat yang gemah ripah loh jinawi. Sebab, pada dasarnya masyarakat bangsa Indonesia memiliki semangat dan etos kerja yang kuat, toh meskipun mereka bekerja tidak harus di negara sendiri, slogan lebih baik makan batu di negeri sendiri daripada makan roti di negeri orang lain telah hilang. Etos kerja yang tidak diimbangi dengan lapangan yang memadai, membuat kreatifitas masyarakat menurun dan mengadu nasib di negeri lain.
Kreativitas masyarakat mulai menurun dari produsen menjadi konsumen, menjadi penonton dari setiap kemajuan. Rasa menggantungkan diri begitu besar daripada menjadi hidup mandiri. Sempitnya lapangan kerja, sedikit sekali yang menjadikannya tantangan untuk menciptakan lapangan kerja. Bisa jadi karena masyarakat belum siap menghadapi perubahan dari agricultural society, industrial society menjadi informatikal society.
Masalah di atas adalah problem klasik yang  belum terselesaikan secara tuntas, tiadakah beberapa pemuda yang memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang sedang dialami bangsa ini.
Refleksi keindonesiaan masa kini melalui peringatan hari pahlawan menjadi hal yang prioritas untuk menumbukan semangat nasionalisme sejak dini, mengingat karakter para birokrat, politisi yang seolah-olah hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok.

Refleksi hari pahlawan
Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar pada sejarah, sejarah telah cukup memberikan pelajaran sangat berharga tentang arti sebuah perlawanan. dari refleksi timbul kesadaran menjadi karakter kepribadian.
Selayaknya, peringatan hari pahlawan merata pada segenap masyarakat bangsa, mulai dari yang paling atas hingga yang paling bawah. Walaupun berbeda cara dalam memperingati, refleksi, atau merayakan, paling tidak timbul semangat untuk memberikan yang terbaik buat bangsa dan negara.
Harapan peringatan hari pahlawan agar bisa melahirkan semangat  nasionalisme yang tidak harus berperang melawan kompeni, namun melawan penjajah di negeri sendiri. Menjadi pahlawan yang berani melawan ketidakadilan, membela masyarakat tertindas, dalam arti bukan mereka yang hanya diperangi dengan senjata, namun moralitas, karakter, patriotisme dan nasionalisme yang secara perlahan telah terjajah. Wallahu a’lam bis showab...

About Bagus Supriadi

Organic Theme. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © MERESAPI HARI

Designed by Templatezy