Sunday, September 23, 2012

PERJALANAN

Posted By: Bagus Supriadi - September 23, 2012

Share

& Comment


Dalam perjalanan ini, aku menemukan sesuatu yang meresahkan hati. Di simpang jalan, kutemukan rumah-rumah berdinding bambu yang sudah reot, sementara di depan rumahnya terpampang baleho bupati dan calon bupatinya. Di dalam bus, aku juga menemukan anak kecil yang bernyanyi dengan suara sumbang kemudian menengadahkan tangannya pada setiap penumpang. Aku juga melihat dari jendela bus, lalu lalang manusia yang bermacam-macam.
 Perjalanan ini, sungguh begitu meresahkan, di terminal Arjosari, aku merasakan bila hidup itu memang keras, penuh dengan kerja keras, lalu lalang manusia di terminal ini, tak lain hanya untuk mendapatkan sesuap nasi hingga mereka saling sikut menyikut mencari penumpang.
Dari Arjosari aku menuju Gadang, kemudian menuju Gondanglegi, perjalanan yang cukup melelahkan. Perjalanan ini bukan tanpa tujuan, sejak kemarin aku ragu hendak melakukan perjalanan ini, sebab, beberapa amanah masih belum terselesaikan, namun aku tetap memaksakan diri  mengunjungi acara selamatan temanku yang hendak pergi ke Mesir melanjutkan studi di Universitas al Azhar.
Aku juga mendengar, semua orang di kota ini berbahasa Jawa, aku bertanya pada  diri sendiri, aku orang Jawa, terlahir dan besar di Jawa. Tapi mengapa aku tak bias berbahasa Jawa dengan fasih. Aku bukan orang Madura, tapi mengapa aku bias berbahasa Madura. Suatu kejanggalan yang tak bisa ku  jawab.
Seperti umumnya yang terjadi di desa bahwa rangkain acara selamatan dimulai dari mengkhatamkan al Qur an, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa. Selang beberapa jam kemudian, datang beberapa santri membawa hadrah. Pembacaan sholawat nabi pun dimulai, menirukan lagu yang dibawakan oleh habib Syekh yang terkenal. Namun tetap saja ada kejanggalan, pembacaan sholawat ini hanya sebatas menikmaati indahnya suara vocal dan asiknya tabuhan rebana, tiada tampak meresapi makna dari bait-bait pujaan pada nabi yang tersusun indah itu. Apakah pembacaan ini sholawat ini sudah hilang dari esensinya, yakni menyanjung nabi dengan menghayati segala maknanya.
Haripun beranjak malam, ada yang berkata, “buat apa jauh-jauh kuliah keluar negeri, wong di negeri sendiri sudah gak muat menghabiskan ilmunya”statemen itu membuatku memalingkan kepala, aku menoleh dan menatapnya. Hatiku berkata, nabi saja pernah menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu sampai ke negeri China. Memang di negeri ini, iklim intelektual cukup berkembang, namun apa salahnya mencari ilmu pada negeri yang sudah ternama dan terbukti mengeluarkan tokoh-tokoh intelektuan kelas internasioanal, bukankah alm. Gus Dur, Gus Mus, Quraish Shihab pernah belajar di Mesir.
Membicarakan Mesir, aku teringat dengan Naguib Mahfoudz, salah satu peraih nobel sastra, yang waktu itu, Pramoedya Ananta Toer juga pernah masuk nominasi, namun kalah dengannya. Sedikit sekali karya Naguib Mahfoudz yang aku baca, sebab terbatasnya terjemahan atas karya-karyanya.
Aku juga sempat berpesan, jika di mesir ada salah satu kafe tempat sastrawan ternama itu menghabiskan waktunya dalam berkarya, karnak kafe. Tempat berkumpulnya para wisatawan asing ke Mesir, disanalah Naguib Mahfoudz memperoleh inspirasi atas segala karyanya, toh meskipun dia pernah menjadi target pembunuhan dari pemerintah.


About Bagus Supriadi

Organic Theme. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © MERESAPI HARI

Designed by Templatezy