Sabtu, 30 Juni 2012

LELAKI PERTIMBANGAN

dimuat di Radar Bromo, Minggu 01 Juli 2012
            Kau tahu kenapa aku menyayangimu lebih dari siapapun, karena dirimu sederhana. Sikapmu, wajahmu, bibirmu, senyummu, matamu, bahkan semua yang melekat pada tubuhmu tampak sederhana. Tak heran jika aku ingin memilikimu dengan sepenuh hati sebab takkan ada pria yang melirikmu setajam elang. Dan perempuan sederhana sepertimu tak bisa membuatku cemburu.
            Kali ini aku takkan salah memilih perempuan sepertimu, lelaki penuh pertimbangan sepertiku sudah terlalu lama mempertimbakan perempuan. Kau tahu, mempertimbangkanmu untuk berada di sisiku membutuhkan waktu yang tidak sebentar, aku harus bertanya pada  orang bijak  tentang dirimu yang sederhana. Sebab aku tak boleh gegabah lantaran aku ingin menjadikanmu perempuan terakhir yang aku pertimbangkan.
****
            Suatu hari aku datang pada kiai Jamal dan menceritakan dirimu, perempuan sederhana. Kemudian aku meminta pendapatnya.
“memilih perempuan itu seperti mendatangi toko, memilih pakain yang cocok untuk si pembeli. Jika dia ingin pakain yang bagus, tentu harganya juga mahal. Dan memilihnyapun tak bisa gegabah. Ada pakain yang bagus dan harganya sudah sesuai namun pakaian itu terlalu besar. Ada yang warnanya cocok dan ukuran sesuai dengan tubuh si pembeli namun setelah didapat dan menjadi milik pribadi, pada kenyataannya setelah dipakai satu atau dua minggu pakain tersebut luntur warnanya. Ada juga yang sudah sesuai dengan ukurannnya, warnanya dan harganya, tapi terlalu kecil sehingga kalau dipaksakan tidak akan bertahan lama. Ya seperti itulah memilih perempuan”.
“lantas perempuan yang aku sebutkan tadi termasuk yang bagaimana kiai? Soalnya dia adalah perempuan terakhir diantara banyak perempuan yang telah aku pertimbangkan sekian lama” tanyaku penasaran.
            Kiai diam sejenak berfikir dan memejamkan mata, barangkali ia bisa menembus hal yang tak tampak oleh kasat mata, atau yang seringkali dikenal dengan nama mukasyafah, ngerti sak durunge winarah. Aku menatapnya dengan penuh tanya.
“perempuan itu hitam maniskan!”
Aku terkejut dan menjawab
“ia pak kiai”
“Sepertinya postur tubuhnya tidak terlalu jauh tinginya dengan dirimu” tambahnya dengan mata tetap terpejam.
Aku segera menjawab
“benar kiai”
Ternyata aku tak salah mendatangi seorang yang bijak, ia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sepertinya perempuan sederhana ini memang benar-benar tepat sebagai teman hidupku sampai ajal menjemput.
            “apa yang kau suka darinya, bukankah perempuan itu tidak berkulit putih”
            “aku suka dengan kesederhanaan yang ada pada perempuan itu kiai” jawabku.
            “sepertinya kau harus berada di atas angin, dan aku tidak bisa menebak apa dan bagaimana seharusnya, cobalah kau bertanya pada seseorang yang lebih mengerti. Kau boleh pulang sekarang.”
            Aku pulang dengan perasaan yang sedikit lega dan sedikit tanya, perasaan lega karena aku mengira kau memang perempuan yang ditakdirkan untukku, dan tanya itu karena kiai yang kudatangi belum bisa memastikan bagaimana sebenarnya dirimu, serta aku tidak bisa mengartikan makna perkataan kiai bahwa aku harus berada di atas angin.
“ah biarlah, kiai salah jika berbicara hal yang abstrak seperti itu padaku, aku tidak paham dan tak perlu memikirkannya”. Ucapku dalam hati
            Kesederhanaanmu sudah bisa meyakinkanku untuk memilikimu. Jika dihitung-hitung, sembilan puluh persen kau adalah baju yang cocok untuk kupakai. Aku sudah tahu dirimu, aku tahu keluargamu, aku juga tahu tempat tinggalmu. Ya kaulah pakainku, perempuan sederhana.
            Meskipun keyakinan telah mendominasi dalam diriku, aku tetap tak ingin gegabah, sebab walau bagaimanapun kau adalah perempuan terakhir yang aku pertimbangkan diantara sekian banyak perempuan.
            Sekali lagi Aku mencari seseorang yang bijak untuk ku mintai pendapat tentang perempuan sederhana sepertimu. Tentang keluargaku sendiri, aku tak perlu khawatir, karena mereka telah memasrahkan semuanya padaku, hanya saja catatan dari orang tuaku, perempuan manapun yang aku pilih adalah perempuan yang mampu menemani lelakinya dalam keadaan apapun serta faham tentang agama, itu saja!
***
“masak aku harus mendatangi dukun, masak ia orang bijak, ah tak apalah, aku hanya ingin minta pendapat tentangnya, jika ada baiknya aku ambil, jika tidak biarkan saja pendapatnya mengalir dan tak perlu ku hiraukan”.
 Saran temanku untuk mendatangi seorang dukun aku iyakan. Aku berangkat setelah matahari terbenam, rumahnya tidak seangker yang ada dalam bayanganku, di halaman rumahnya terdapat taman yang indah dan kolam ikan, sepi memang, hanya suara air yang memancur pada kolam ikan tersebut menandakan adanya kehidupan, rumahnyapun tidak tampak remang-remang, terlihat terang dengan cahaya lampu di ruang tamu.
“ah dukun ini pasti dukun modern” pikirku.
Didalam rumah, berderet beberapa lukisan perempuan yang penuh misteri, mengapa misteri? Lantaran tak ada yang aku mengerti dengan setiap lukisan yang terpajang, hanya lukisan yang seperti coretan belaka. Aku menilai, sepertinya ini bukan rumah seorang dukun, tapi rumah seniman atau pelukis, tampaknya temanku sudah salah menunjukkan seseorang.
“perempuan sederhana seperti apa yang kau maksudkan mas?” tanya dukun tersebut.
“maksud saya, saya suka dengan bedak diwajahnya yang sederhana, lipstik di bibirnya yang sederhana, cat penghitam alisnya yang juga sederhana, serta cara berpakainnya yang sederhana, bahkan semua yang ada dalam tubuhnya tampak sederhana. Sehingga saya berpikiran perempuan sederhana seperti dia tidak akan membuat saya cemburu pada lelaki lain” Jelasku padanya.
Setelah aku menjelaskan, dukun itu masuk kedalam kamarnya dalam waktu yang cukup lama. Aku menunggunya sambil merenungi setiap lukisan yang terpajang. Deretan lukisan itu berakhir pada pintu masuk kedalam ruang kamar, aku terhenti dan mulai berpikir apa sebenarnya yang sedang dilakukan dukun itu. Pikirku, ia sedang membaca mantra pada bola ajaib yang ada dikamarnya, atau sedang membakar kemenyan dan membuka keris sambil komat kamit membaca mantra.
“Ah sebenarnya dia dukun atau seniman sih” kesalku.
Tiba-tiba dukun itu keluar dengan membawa kitab dan buku.
“ah ini memang bukan dukun, tapi seniman” tambahku dalam hati.
Ia duduk kembali dan membuka kitab yang sepertinya sudah lama dimilikinya, ia memakai kaca mata yang dibawa dari kamarnya. Ia mengamati buku itu dengan cermat seperti sedang mencari isi pokok dari kitab tersebut.
“perempuan itu misteri mas, seperti lautan, bertanya tentang perempuan sama saja kau bertanya pada ikan tentang laut. Ikan walaupun hidupnya bertahun-tahun di laut tetap saja tak bisa merasakan laut itu asin. Sekali lagi perempuan itu misteri mas, kalau dibilang mutiara, sepertinya sulit untuk mendapatkan yang sebenar-benarnya mutiara. Tapi...
“tapi apa pak” sanggahku
“tapi agama memberikan kriteria terhadap perempuan” pikirnya sejenak dan meneruskan
“barangkali perempuan sederhana yang dimaksud jika di urut dari awal adalah perempuan yang menonjol agamanya, dalam artian mengerti dan paham serta sadar dalam beragama, khususnya menfungsikan dan memposisikan dirinya sebagai perempuan dihadapan lelaki. Kedua, ia memiliki nasab yang tak terkotori oleh apapun, maksudnya ia keturunan dari keluarga yang baik.  Tentunya kau tidak ingin memetik mawar yang tumbuh di tanah tempat kotoran hewan, bukan!”
“Maksudnya pak” sanggahku.
“begini, ini masuk urutan yang ketiga, perempuan yang cantik, Zaman sekarang siapa yang tidak melihat perempuan cantik, di pasar-pasar, di jalanan, bahkan di desa yang terpencil sekalipun, perempuan sekarang sudah sangat pandai menghias diri, jadi kalau mencari perempuan cantik tidak terlalu repot. Hanya saja jika diibaratkan mawar, tak sedikit mawar yang tumbuh di tanah tempat kotoran hewan, begitu juga dengan perempuan, tak sedikit pula perempuan cantik yang terlahir dari rahim yang tidak jelas, dari hasil perselingkuhan, dari benih janin yang diberi makan uang haram misalkan. Itu yang kumaksud dengan ibarat bunga mawar tadi”.
Aku mengangguk-angguk, terpana dengan penjelasan dukun yang menurutku seorang seniman yang telah menyelami samudra perempuan.
Kemudian ia melanjutkan
“dan yang keempat adalah materi atau uang. Selain ketiga hal diatas, agama juga menambahkan kekayaan yang dimiliki perermpuan yang seharusnya menjadi pilihan lelaki. Mengapa uang? Sebenarnya yang ke empat ini sebagai pelengkap. Hanya saja jika ada yang memiliki segalanya, mengapa tidak! Logikanya, jika kau memiliki seorang perempuan yang secara finansial sudah mapan, kau tidak terlalu repot mengurusi dunia dengan mencari uang. Tentunya ada kemudahan bagimu jika ada modal yang hendak dijalankan, kau tak perlu mencari, tinggal  meneruskan dan mengembangkan”.
Aku puas dengan jawaban yang diberikan dukun alias seniman ini, hanya saja masih ada satu pertanyaan yang  menggelisahkan.
“kalau perempuan memilih lekaki bagaimana pak”
“ini yang juga cukup luas, aku sebagai lelaki tidak bisa menilainya terlalu banyak, barangkali juga tidak terlalu jauh dengan yang kusebutkan tadi. Namun, perempuan sekarang sepertinya dalam memilih lelaki lebih kepada yang nomor empat atau materi. Walaupun ini tidak seluruhnya, namun kau bersiap saja menyediakan segalanya. Aku tahu manusia itu butuh hidup bersama dengan perempuan, sebab kesendirian terkadang menimbulkan kebimbangan dan kegelisahan. Tapi sederhananya kalau kau menginginkan perempuan seperti Sayyidah Fathimah paling tidak kau harus seperti Sayyidina Ali, kalau menginginkan perempuan seperti Fatmawati kau harus seperti Soekarno”.
Sepertinya ini sudah cukup sebagai pertimbangan dalam memilih perempuanmu, tak perlu ku jelaskan makna dari setiap tubuh perempuan, setiap anggota badan yang melekat padanya memiliki isyarat yang cukup erotis. jika aku terangkan sepertinya kau tidak akan memilih. Dan sepertinya kau akan tetap dalam pertimbangan walau sudah berkepala empat.
***
Seniman alias dukun itu semakin membuatku bingung, aku butuh satu orang bijak lagi untuk kumintai pendapat tentang perempuan sederhana, tapi siapa, cukup lama aku memutar otakku, akhirnya kutemukan wajah seseorang terlintas dalam pikiran. 
“barangkali pak erik, guru besar filsafat sewaktu aku masih kuliah”.
Aku mendatangi kediamannya
“sejatinya bahagia bukan berarti  memiliki semua yang kita cintai, namun bahagia itu mencintai semua yang kita miliki. Kalau kau mencintai perempuan itu, kau selayaknya mengeri konsep having and being (memiliki dan menjadi). kalau modus cintamu having, maka termasuk cinta yang menindas. Mengapa? Sebab mencintai atas dasar “ingin memiliki” akan mati-matian menutupi segala keburukan dan kekurangan dalam diri. Namun setelah sang pujaan kau miliki lambat laun tabir keburukannya akan terungkap. ia akan bersikap sewenang-wenang dan memaksa, “sekarang kau milikku sepenuhnya, maka akulah yang berkuasa atas dirimu”.  
“berbeda jika mencintai dengan modus being. Cinta dengan proses menjadi adalah cinta yang “membebaskan” dan penuh toleransi. Mengapa? Karena kekurangan dalam diri perempuan akan dilengkapi dengan kelebihan si lelaki, begitu juga dengan kekurangan lelaki akan di tutupi oleh kelebihan si perempuan. Dan perjalanan cinta akan langgeng karena telah menyatu antara kekurangan dan kelebihan”.
***
Aku pulang dengan keyakinan yang semakin berkurang. Wajah, senyum serta tubuh Perempuan sederhana itu terlintas dalam benakku.
 “perempuan sederhana” aku mempertanyakan kembali perempuan sederhana itu. Kini aku terpaku dalam pertimbangan lagi. Padahal aku ingin menjadikan perempuan sederhana itu sebagai perempuan terakhir untukku.
Aku mengira-ngira dan menilai perempuan sederhana itu sesuai dengan yang dikatakan oleh dukun alias seniman tadi. Cukup lama aku memejamkan mata dan merekam jejak perempuan sederhana. Aku mereka-reka  dari keempat hal tersebut telah ada pada dirinya. Namun aku belum bisa meyakinkan yang kedua.
“ah semoga saja kau adalah mawar yang memang tumbuh di taman bunga, bukan diatas kotoran hewan”
Begitupula aku benar-benar menghayati perkataan pak Erik. Hingga pada akhirnya aku putuskan jika kau adalah perempuan sederhana yang memang diciptakan untuk menemani hari-hariku sampai penghujung usiaku.
***
Tiga bulan telah terlewati selepas masa perkawinanku dengan perempuan sederhana. Aku memang tak salah memilih perempuan itu, aku merasakan jika dia memang perempuan terakhir dari sekian pertimbanganku.
Setahun telah berlalu, aku dan perempuan sederhana memiliki kesibukan masing-masing. Aku bekerja sebagai pegawai negeri di salah satu pemerintahan sedangkan istriku, si perempuan sederhana bekerja pada salah satu majalah perempuan. Satu bulan, dua bulan aku menanggapi pekerjaan istriku dengan hal yang biasa. Sebab rumah tanggaku tetap harmonis meskipun belum dikaruniai momongan.
Hanya saja aku tak habis pikir setelah usia pernikahanku berumur satu tahun setengah, aku begitu terpukul melihat wajah, senyum, dan tubuh istriku yang dulu ku anggap sederhana dan tak akan membuatku merasa cemburu karena tak akan ada lelaki lain yang meliriknya. Kini tengah telanjang pada lembaran-lembaran majalah tempat ia bekerja.


 April 2012








































           

Read More

Kau Kah Itu,


Kau kah itu,
Kau kah itu yang sedang duduk sendirian
Di beranda rumah sambil memandangi rembulan
Kau kah itu yang sedang dalam penantian
Diriku yang kini berada di tanah rantau
            Kau kah itu yang sedang berada dalam remang
            Di antara pijar lampu pada tengah malam
            Kau kah itu disana yang sedang berdzikir dengan harapan
            Akan datangnya seikat kembang merah dari pujaan
Kau kah itu....
03.00 30 Juni 2012
Read More

Minggu, 24 Juni 2012

Hati Nuranimu Berteriak



            Ketenangan sejati  itu hanya ada dalam dirimu, bukan pada orang lain, atau tempat lain yang ingin kau singgahi. Kemanapun kau ingin pergi untuk menenangkan hatimu yang sedang gelisah, ia tak akan bisa memberikannya, sebab tempat terindah tersebut berada dalam relung hati nuranimu.
            Kau boleh bertanya pada siapapun yang kau anggap orang paling pandai dan paling mampu menenangkan jiwamu, jawaban tersebut akan kembali pada dirimu. Sebenarnya, satu yang perlu kau turuti dalam menjalani kisahmu yang terpotong. Ikuti kata hati nuranimu.
            Bukankah kau juga pernah membaca Bumi Manusianya Pramoedya Ananta Toer,
“kau seorang terpelajar, cobalah bersetia hati pada kata hati nuranimu” itulah pesan yang diucapkan oleh Nyai Ontosoroh pada Minke saat Annelies Mellema akan dibawa ke Belanda. Seorang terpelajar tidak hanya menggunakan otak dalam menghadapi segala persolan manusia. Kau tak boleh melupakan hati nuranimu.
            Kau juga pernah membaca dan mendiskusikannya denganku tentang having and being nya Erick Fromm, yang dibutuhkan dalam hidup bukanlah having melainkan being.  Dan pada akhirnya kita berkesimpulan jika bahagia itu bukan berarti memiliki semua yang kita cintai, namun mencintai semua yang kita miliki.
            Bukankah kau juga pernah mendengar nyanyian di ujung gangnya Iwan Fals, “Wahai kawan, hei kawan, bangunlah dari tidurmu, masih ada waktu untuk kita berbuat, luka di bumi ini milik bersama, buanglah mimpi-mimpi”.
            Senangilah sesuatu yang membuat hatimu berdebam sesuai kebutuhan. Bencilah sesuatu yang membuat hati bergetar sesuai keperluan, karena berlebihan itu tidak ada pada hati nurani manusia. Apapun yang kau lakukan, entah benci dan cinta, kau akan mendapat balasnya.
            Tak perlu ragu untuk melangkah melupakan mimpi yang tak pasti, hati nuranimu akan selalu mengajak untuk menggapai segala tujuan hidupmu. Buanglah mimpi-mimpi yang membuatmu tertidur pulas ke dasar laut.
            Dengarkanlah lirik lagu yang saat ini kenikmati
      “Aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai, tapi aku tetap berdiri”.
            Bukankah kita juga pernah berdiskusi, pelaut yang tangguh tidak lahir dari ombak yang tenang, namun ia lahir karena badai yang menimpa. Akhirnya, kesuksesan itu bukan bergantung pada keadaan, tapi keadaan yang bergantung pada keputusan.
Read More

Selasa, 12 Juni 2012

Memotret Rembulan


Bulan tak pernah menampakkan kebesarannya
Hanya terang yang terasa menyinari bumi dengan keluasannya
Bulan tak pernah bersedia ku potret dengan cahaya buatan
Ia hanya sembunyi di balik langit yang gelap tak berbintang
            aku bermimpi memotret bulan saat ia mendatangiku
            di belakang mencekam menarikku dari ingin
            sampai perempuan malam membujukku dengan rayuan
            aku marah, aku berontak karena bulan telah tenggelam

07 juni 2012
Read More

Senin, 11 Juni 2012

Pencarian yang Belum Usai


“Sampai kapan mimpi mimpi itu kita beli?, sampai nanti sampai habis terjual harga diri”. (Mimpi Yang Terbeli - album 1910 1988)
            Aku melihat seorang tua pada sepertiga malam berjalan dengan tertatih-tatih. Tenaganya telah terkuras oleh waktu sehingga ia memaksakan diri membawa karung yang berisi sampah-sampah untuk didaur ulang. Sepertiga malam, dengan senter ditangannya, ia seperti manusia yang mencari sesuatu yang amat berharga.
            Sampau adzan shubuh berkumandang, ia masih mengelilingi suasana kota yang sepi dari hiruk pikuk manusia. Karung yang digendongnya masih belum penuh dengan sampah, dan sepertinya barang berharga yang dicarinya belum didapatkan.
            Sementara, beberapa penghuni rumah di kota tersebut bergiliran satu persatu menuju musholla, yang tampak dari mereka adalah para orang tua yang tenaganya juga tergerus oleh waktu, tertatih berjalan menuju musholla. Beberapa orang tua itu berpapasan dengan dengan si pencari barang berharga. Tak ada sapa dan berlalu seperti angin.
            sampai tiba waktu pagi, ia berjalan dengan langkah lemah gemulai, pulang kembali kerumahnya dibawah kolong jembatan. Disana telah menanti istrinya yang juga baru datang dari mencari sesuatu yang berharga. Di kolong itu, seorang anak kecil dengan pakain kumuh sedang terlelap.
            Saat matahari memasuki celah-celah gang di kota. Seperti biasa, aku juga melihat pedagang pentol dan es yang tak pernah berubah. Sejak aku masih di sekolah dasar sampai menjadi sarjana. Ia tetap dengan gerobaknya yang makin rapuh.
            Aku juga masih melihat, mengapa mereka yang berdagang pentol dan es selama sepuluh tahun tidak pernah menjadi kaya. Bapak tua yang mengais sampah tak pernah merasakan tidur yang nyenyak. Anak-anak mereka yang tiap hari diterminal menjajakan lagu-lagu sumbang tak pernah mengenal huruf-huruf kecuali angka-angka mata uang. Sampai kapan?
            Ironis, tak ada yang berubah sejak aku meninggalkan kota ini. Yang ada hanya gedung-gedung baru yang tinggi. Sepuluh tahun lamanya, aku mencari sesuatu yang tidak ada di kotaku.
            Dalam pencarian sepuluh tahun yang lalu, selalu terlintas dalam bayangku jika apa yang telah di janjikan oleh para wakil rakyat untuk menyejahterakan masyarakat, telah menghapus mereka yang buta huruf, membangun rumah-rumah bagi mereka yang tidur di kolong jembatan. Namun sampai saat ini, masih nihil.
            Dalam pencarian itu pula, aku seperti burung yang terkurung dalam sangkar, tak memiliki keleluasaan kareran terkurung oleh sistem yang mengikat kakiku untuk melangkah. Akupun hanya melihat alam dalam kurungan yang tak lepas.
            Hanya pikiranlah yang mencoba melepas segala penat yang membelenggu diri. Bermain di alam yang tak pernah tersentuh. Selalu mencari dalam ketidaktahuan. Apa mungkin.
            Mimpiku masih sebatas bangunan yang tak pernah rampung. Hanya ada batu bata yang selalu tertindih oleh tetesan hujan yang semakin mengerusku menjadai tanah. Untung saja aku masih punya mimpi. Mimpi yang takkan pernah terjual dan terbeli.
            Dalam pencarian ini, aku masih setetes diantara samudramu, dan  tulisanku masih belum selesai...
           
Read More