Langsung ke konten utama

Tentang Kematian


Tentang  kematian, apakah manusia bisa mencegahnya, seperti yang terjadi pada temanku, Beng-Beng, nama akrab panggilan Zainul Arifin, Mahasiswa pecinta alam  (PA) IAI Nurul Jadid. Jumaat 04 Februari 2012 Ia menghembuskan nafas terakhirnya di gunung Argopuro.
            Pagi itu, aku sangat tak percaya dengan berita yang kudengar. “temen-temen PA yang mendaki gunung ada yang meninggal” suara itu begitu ramai dan mengusik telingaku. Ada rasa haru dan aku diam terpaku.
            Berita itu benar, Beng-Beng telah pergi. Aku sempat bertemu dengannya tiga hari yang lalu, tapi tak ada tanda-tanda jika dia akan berpulang untuk selamanya, seperti yang orang-orang bilang saat manusia telah mati, ia akan menyebutkan tanda-tanda sebelum kematian. padahal tak ada bisa yang mengetahui tanda kematian.
            Aku melayat kerumahnya, tanda-tanda kematian itu telah aku dengar, keluarganya bilang ketika beng-beng belum meninggal bahwa ia akan pulang tanggal tepat tanggal 5. Dan kini ia telah pulang tanggal lima tanpa nafas lagi.
            Namun, biarlah dia yang telah pergi tak akan kembali. Barangkali kita diingatkan oleh beng-beng bahwa kematian itu tiada yang tahu dan tiada tanda-tanda.
            Bagiku, kematian bukanlah suatu takdir yang semestinya dipasrahkan. Melihat kematian Beng-Beng aku merasa jika dia telah memberikan hidupnya pada tuhan. Bagaimana mungkin dia naik gunung sementara keadaan cuaca sangat buruk, beberapa bulan terakhir ini hujan begitu deras. Selain itu, aku juga mendengar kabar jika mereka berangkat tanpa menggunakan perangkat yang lengkap.
            Tentang kematian, ilmu kedokteran mendefinisikan dengan berhentinya semua fungsi vital tubuh yang permanen seperti jantung dan otak.  Sementara itu, Al-Qur’an memandang bahwa kematian tidak hanya terjadi sekali tapi dua kali. Seperti yang tertulis dalam surah Gafir/40: 11
Mereka  menjawab “ ya tuhan kami, engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali( pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah  jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Gafir/40:11.
            Para ulama memaknai bahwa kematian manusia pertama adalah saat sebelum Allah meniupkan roh kehidupan kepadanya, sedangkan yang kedua adalah saat manusia meninggalkan dunia yang fana ini.
            Beng-Beng dalam hal ini berada pada kematian yang kedua, berpindahnya roh dari alam dunia kea lam Barzakh. Bersambung……

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Inspirasi Pengusaha Bibit Buah yang Sukses

Bekerja sesuai hobi memang terasa menyenangkan. Apalagi sampai meraih kesuksesan. Yusron mengalami hal itu, meskipun harus berkorban meninggalkan bangku kuliah pada 2011 lalu.
Hamparan bibit buah di belakang rumah Yusron Ismail berjejer rapi. Mulai dari berbagai jenis bibit durian, sawo, bahkan juga jenis buah langka dari Amerika Latin seperti Mamesapote, yaknijenis mangga ukuran besar warna cerah. Jumlahnya mencapai puluhan ribu. Bibit itu dirawat dengan baik.
Disana, tampak para perempuan memakai caping sedang bekerja. Ada yang menyiram bibitnya. Ada yang memasang bibit ke dalam bungkus pot plastik. Lalu meletakkannya dengan rapi.
Di Jalan Sumberejo Desa Umbulsari, Yusron mempekerjakansekitar 28 orang. Mereka mencari rejeki dengan mengelola bibit tanaman yang diberi nama Getas Merah Umbulsari (GMU). “GMU itu nama dari usaha pertama, bibit jambu yang membuat sukses,” kata Yusron.
Pria kelahiran Jember16 oktober 1991itu memulai bisnis bibit tanaman sejak tahun 2010 lalu. Semua beraw…

Secangkir Kapal Api di Pojok Surau

Anginmalam membawa suasana yang sangat nyaman untuk istirahat. Rasa lelah setelah sibuk dengan berbagai aktifitas membuat tubuh ingin dimanja. Namun, keramain para santri membuat Zaidun tak bisa memejamkan mata. Justru mengalihkan pikirannya untuk pergi ke kantin bersama teman-temannya.

 “Satu kopi hitam kang, kapal api  spesial mix,” kata Zaidun pada Umar, penjaga kantin  pondok pesantren tempatnya belajar. Disana, sudah ada beberapa santri yang gayeng ngobrol apa saja. Mulai dari hal yang tidak penting, sepertu lelucon hingga urusan genting untuk didiskusikan. Malam itu, Zaidun bersama enam santri duduk lesehan dengan  satu meja panjang. Setiap malam, meja itu selalu penuh dengan santri yang menghabiskan waktunya untuk ngopi dan berdiskusi. Menariknya, Zaidun mengajak temannya untuk mengkaji kitab Irsyadul Ikhwan, li bayani syurbil qahwah wa dukhon, yakni kitab tentang  kopi dan rokok karya Syaikh Ihsan Jampes.


Zaidun  menerangkan beberapa isi penting dari kitab yang dikarang oleh kiai…