Langsung ke konten utama

Persembahan untuk Bangsa


Malam ini, seperti yang dikatakan semua orang dan dirayakannya adalah malam tahun baru. Sebenarnya tak ada yang baru dalam pergantian tahun ini. hatiku masih dalam kegelisahan yang begitu dalam. Apalagi setelah kepergianmu dipenghujung tahun ini. ya tepat di penghujung tahun.
Kita merayakannya dengan renungan. Renungan tentang bangsa kita yang carut-marut. Renungan tentang pribadi-pribadi yang angkuh. Kita memiliki cara yang berbeda dalam merayakannya, saat mereka menghiasi malam dengan menyalakan kembang api. Kita asyik masyuk dengan membacakan puisi untuk negeri ini dengan diiringi seribu lilin sebagai penerangan kegelapan malam.
aku berucap saat membacakan puisi untuk negeri ini “ini adalah puisi-puisian yang dikarang oleh penyair-penyairan. Namun penyair-penyairan ini siap menjadi penyair sungguhan demi bangsa dan negara.”
Hasrat untuk berpuisi begitu besar, sebesar keinginan yang ada dalam bayangan, tapi aku tak tahu cara berpuisi yang baik. aku bukan seorang penyair. Tubuhku bergemetar dan jantungku berdetak lebih cepat tak seperti biasanya.
Aku meyakinkan diri maju keatas pentas,
Negeri Pelupa
Barangkali...
Kita telah lupa dimana kita lahir
Kalau bukan ditanah air tercinta
Tempat bapak kita menanam bunga
Kemudina kita petik  untuk  sang kekasih

Barangkali...
Kita juga telah lupa siapa pendiri bangsa
Kalau bukan bapak dan mbah-mbah kita
Yang tertembus peluru tepat di dadanya
Dor...hatinya berlubang, ia pun gugur

Barangkali...
Kita tak sempat ingat
jika Indonesia adalah pusaka
Yang diberikan pada generasi bangsa
Mengapa mesti tertetesi oleh darah derita


Barangkal...i
kita sudah lupa kalau indonesia sudah merdeka
sejak 66 tahun lamanya
namun pada saat yang sama
kita sendiri yang menjajah
karena ambisi pribadi yang serakah

Kita lupa dimana kaki kita berpijak dan bernaung
Kalau bukan di bumi Indonesia yang subur
Hingga kita menjadi manusia-manusia penganggur
Kalaparan hanya disuapi dengan meraung-raung

mungkin esok...
Kita akan lupa siapa ibu kita
Kita lupa siapa saudara kita
Dengan mengenal slogan tak ada kawan dan lawan
Hingga kita menjadi manusia durhaka

Esoknya lagi...
Kita akan lupa bahwa kita manusia
Yang ditugaskan sebagai pengelola bumi indonesia
Bukan menjadikan negeri yang sia-sia

Pada akhirnya...
Indonesia menjadi negeri pelupa
Memiliki masyarakat yang tak ingat apa-apa
Dan sebab lupa itulah
Kita akan terkubur berasama-sama

                                                                                    Paiton, 28 Desember 2011

Seperti melepas pikulan batu di punggung saat aku selesai membaca puisi untuk negeri pelupa ini. aku merasakan betapa lemahnya manusia ini, tak ada yang patut disombongkan dihadapan siapapun.
Berbangga diri itu bernama kesombongan, menganggap orang lain remeh itu bernama kesombongan. Sesekali bercermin atas kelebihan orang lain dan lihatlah kekurangan kita sendiri.
Aku masih menghisap rokok tanpa sadar, ya kebanyakan perokok merokok tanpa sadar, satu, dua dan tiga batang kikis terbakar oleh api. Aku tak bisa memaknai arti setiap hisapan rokok, aku terpana dengan hiruk pikuk pidato tentang kebangsaan.
Tetesan hujan semakin membasahi bumi pada malam penghujung tahun, tampak dari kejauhan berbunyi petasan disertai kembang api yang memancar kelangit luas, aku bisa menyaksikan betapa indahnya malam gelap kemudian tampak kemerlap sinar berwarna-warni.
Hening, malam mulai hening saat semua terpaku pada satu suara, suara yang mampu menyihir mulut-mulut yang tak bisa diam, suara itu juga mampu menahan rintik hujan tak jatuh kembali ketanah.
“jika kalian sudah mulai merasa jenuh dengan suara-suara bising manusia, kalian merasa bosan dengan hiruk pikuk manusia, maka dengarlah kata hati nuranimu sendiri. Sebab ialah kebenaran yang tersembunyi. Ia yang dapat mengantarkanmu melewati kebisingan dan kejenuhan hidup.” ia memulai perkataannya. 
Minggu 01 januari 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…

Inspirasi Pengusaha Bibit Buah yang Sukses

Bekerja sesuai hobi memang terasa menyenangkan. Apalagi sampai meraih kesuksesan. Yusron mengalami hal itu, meskipun harus berkorban meninggalkan bangku kuliah pada 2011 lalu.
Hamparan bibit buah di belakang rumah Yusron Ismail berjejer rapi. Mulai dari berbagai jenis bibit durian, sawo, bahkan juga jenis buah langka dari Amerika Latin seperti Mamesapote, yaknijenis mangga ukuran besar warna cerah. Jumlahnya mencapai puluhan ribu. Bibit itu dirawat dengan baik.
Disana, tampak para perempuan memakai caping sedang bekerja. Ada yang menyiram bibitnya. Ada yang memasang bibit ke dalam bungkus pot plastik. Lalu meletakkannya dengan rapi.
Di Jalan Sumberejo Desa Umbulsari, Yusron mempekerjakansekitar 28 orang. Mereka mencari rejeki dengan mengelola bibit tanaman yang diberi nama Getas Merah Umbulsari (GMU). “GMU itu nama dari usaha pertama, bibit jambu yang membuat sukses,” kata Yusron.
Pria kelahiran Jember16 oktober 1991itu memulai bisnis bibit tanaman sejak tahun 2010 lalu. Semua beraw…